MENYAMBUT BULAN RAMADHAN
Kito Rezpector SlawaseBeberapa hari lagi, bulan suci Ramadhan tahun ini akan segera kita masuki. Sebagai muslim, sudah seharusnya kalau kedatangan Ramadhan kita sambut dengan penuh kegembiraan karena insya Allah, kesempatan menikmati ibadah Ramadhan kembali kita peroleh. Target utama dari ibadah Ramadhan sebagaimana yang disebutkan pada surat Al-Baqarah: 183 adalah semakin mantapnya ketaqwaan kepada Allah Swt. Sebagai wujud dari rasa gembira, Ramadhan tahun ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja tanpa aktivitas dan kegiatan yang dapat meningkatkan ketaqwaan diri, keluarga dan masarakat kita kepada Allah Swt. Maka, persiapan-persiapan kearah itu sudah harus kita lakukan, baik secara pribadi maupun bersama-sama.
Ramadhan tahun ini kita masuki dalam suasana yang penuh dengan keprihatinan. Prihatin karena begitu banyak dosa yang dilakukan oleh kita dan masarakat sehingga Allah menunjukkan kemurkaan-Nya dengan terjadinya sejumlah bencana alam seperti kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan, kekurangan air, kebakaran hutan, hingga kekurangan pangan yang meyebabkan musibah kelaparan dan naiknya harga-harga kebutuhan pokok, ini diperparah lagi dengan terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan sehingga membuat masarakat bertambah sulit. Kesulitan masyarakat di kota-kota besar tidak separah kesulitan masyarakat kita di daerah dan di desa-desa terpencil.
Allah Swt. Berfirman:
“Telah Nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS 30:41).
Moralitas masyarakat kita memang harus waspadai, hal ini karena banyak sifat-sifat baik yang semestinya lekat dalam pribadi dan masyarakat telah hilang sehingga menjadi sesuatu yang amat mahal nilainya. Sifat-sifat yang telah hilang dari pribadi dan masyarakat kita misalnya budaya malu sehingga seseorang atau sekelompok orang dengan tanpa malu-malu melakuakan kemaksiatan, kemungkaran dan kebatilan, akibatnya sendi-sendi kehidupan masyarakat menjadi rusak dan kerugian moril serta materil menjadi sesuatu yang tidak bias dijhindari. Kebenaran atau kejujuran juga menjadi sesuatu yang telah hilang, sehingga kebohongan terjadi dimana-mana dalam berbagai dan lapangan kehidupan. Bahkan yang amat memprihatinkan kita kejujuran dinilai sebagai suatu kebodohan dan kebohongan sebagai jalan terbaik untuk mengembangkan karir dan memajukan perekonomian pribadi. Tindak kekerasan, arogansi kekuasaan, juga diantara masalah yang harus kita atasi. Semangat individualistik kehidupan yang bermuara pada meterialisme juga sebagai sesuatu yang tidak bisa dibiarkan terus berkembang. Tegasnya, begitu banyak persoaalan yang menghantui pribadi, keluarga, masyarakat, yang harus kita atasi.
Semua itu menyadarkan kata bahwa keberkahan hidup tidak bisa kita peroleh kecuali manakala kita miliki keimanan dan ketakwaan yang sebenar-benarnya kepada Allah Swt.
Allah Swt. Berfirman:
“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu. Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS 7:96)
Karena itu, Ramadhan yang penuh berkah harus kita jadikan sebagai momentum untuk menyelamatkan masyarakat dengan melakukan taqarrub illalah atau mendekatklan diri kepada Allah, baik dengan taubat, munajat dan melakukan sejumlah peribadatan maupun memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat agar kehidupan kita betul-betul dapat dirasakan manfaatnya bagi orang lain dan perbaikan masyarakat dapat kita wujudkan dari waktu ke waktu, baik perbaikan diri, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan Negara.
0 coments: